Dark
Light
Today: July 22, 2024
8 years ago
45 views

Presiden GIDI: Idul Fitri, Jangan Ada Lagi Pihak Ketiga Di Tolikara

Presiden GIDI: Idul Fitri, Jangan Ada Lagi Pihak Ketiga Di Tolikara
Presiden GIDI Pendeta Dorman Wandikbo – Foto: Abeth You/Jubi

Jayapura, WANI/Jubi — Para pihak dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), umat muslim dan keamanan di Tolikara bersatu memastikan perayaan hari raya Idul Fitri berjalan damai dan berkomitmen untuk tidak membiarkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menghancurkan kerukunan beragama di wilayah tersebut.


“Kami dari 21 klasis dan BPW Pemuda yang ada di wilayah Toli menjamin pelaksanaan Idul Fitri di Karubaga, Tolikara tetap aman,” kata Wakil Ketua Badan Pengurus Wilayah Toli, Pdt. Manase Wanimbo dalam pernyataan yang dikirimkan kepada Jubi, Senin (4/7/2016).

Dalam surat tersebut, Pdt Manase menjelaskan insiden Tolikara pada 17 Juli 2015 lalu adalah “masalah mis-komunikasi yang menimpa umat muslim dan umat GIDI di Tolikara. Masalah insiden Tolikara lalu itu sudah berhasil diselesaikan dengan kesepakatan damai damai dan kami harapkan masalah seperti ini tidak boleh terjadi lagi di tahun-tahun mendatang.”

Arianto Kogoya, yang mendatangi Jubi, Senin malam, menjelaskan bahwa pertemuan antar pihak tersebut dilakukan minus pemerintah daerah, bulan lalu. “Pertemuan dilakukan hari Selasa tanggal 21 Juni. Hal ini (jaminan keamanan) diputuskan bersama pimpinan gereja di wilayah Toli, pimpinan muslim dan Kapolres Tolikara, untuk sama-sama menjaga dan melindungi jalannya ibadah umat muslim, hari Idul Fitri di Tolikara. Pemerintah juga diundang tapi tidak ada yang hadir,” katanya.

Pernyataan tersebut dibenarkan salah satu tokoh muslim di Tolikara, Ustad Ali Muhktar. “Saat itu saya sedang di Jawa. Tapi memang ada tokoh-tokoh (muslim) yang lain, ada dua atau lima orang yang hadir. Kebetulan, tadi saya sudah temui pendeta Lazarus dari Gereja Ebeneizer yang saat itu ikut. Beliau menjamin,” kata Ustad saat dihubungi Jubi melalui selulernya.

Ustad Ali yang berprofesi sebagai guru di Karubaga itu menyatakan yakin kerukunan beragama yang sempat retak pada 2015 itu akan kembali pulih dengan kerjasama semua pihak. Pengalamannya selama belasan tahun lalu itu diimpikannya untuk kembali diwujudkan dan menjunjung tinggi rasa hormat antar keyakinan.

“Harapan kami ibadah berjalan sukses, tidak sampai terjadi seperti yang lalu lagi. Yang kemarin semoga itu yang terakhir. Karena, saya bisa lihat semenjak dulu, dari tahun-tahun saya di sini sejak 2007, 2008, 2009 sampai 2014 dan baru terjadi di tahun 2015. Hubungan kami memang cukup harmonis di sini, pas hari Natal, kita yang muslim mengunjungi yang natalan. Kalau hari raya kita (Idul Fitri), yang dari umat kristen mengunjungi kami dan mengucapkan selamat hari raya gitu, tidak ada apa-apa,” ujar Ustad Ali.

Ia mengatakan ibadah Idul Ied pada Rabu (6/7/2016) akan dilakukan di Mesjid baru yang dibangun di halaman koramil Karubaga, Mesjid Koramil Hairul Umah, berkapasitas 1000 orang sampai di halaman mesjid.

Sementara itu, Presiden GIDI Pdt. Dorman Wandikbo, sebelumnya menyatakan menolak pernyataan beberapa pihak di media massa di Papua yang mengumpamakan insiden Tolikara sebagai tolak ukur keamanan beragama di Papua. Menurutnya, semua umat beragama di tempat itu sudah saling menghormati keyakinan masing-masing dan tertanam lama. Dan, terkait tragedi tahun lalu, menurutnya dilakukan ‘by design’ oleh pihak tertentu yang menggunakan moment hari raya keagamaan untuk tujuan tertentu.

“Banyak orang menyoroti di media, ‘jangan terjadi seperti di Tolikara’. Saya tolak! Jangan jadikan Tolikara sebagai ukuran karena Tolikara tidak punya tujuan untuk bikin kacau Papua,” tegasnya.

Pendeta mengatakan, pihaknya sudah mempraktikan sejak lama bagaimana hidup saling menghargai dan menghormati. “Sebagai umat beragama, kita dukung Idul Fitri 100 persen. Tapi, kepentingan pihak ketiga yang bermain sampai akhirnya terjadi tragedi Tolikara.”

Sebulan Pasca tragedi Tolikara, pemerintah daerah dan pihak GIDI memenuhi tiga instruksi Presiden Joko Widodo: membangun kembali rumah kios (ruki), menerapkan hukum positif bagi tersangka tragedi Tolikara, dan rekonsiliasi.

Arianto: Tak ada dendam

Kendati bukti-bukti dan keterangan saksi lemah, dua pemuda GIDI: Arianto Kogoya dan Jundi Wanimbo- yang disangkakan sudah memenuhi tuntutan hakim dan pemerintah. Pada Februari 2016, keduanya dinyatakan bebas.

Arianto bahkan mengaku tak ada dendam atas kasus tersebut. “Saya akan pergi salam mereka, itu pasti. Saya sama sekali tidak ada dendam. Saya harap hari raya ini bisa berjalan lancar,” ucap Arianto. (*)

Copyright ©TabloidJUBI


Tanggapan anda, Silahkan beri KOMENTAR di bawa postingan ini…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.