Dark
Light
Today: July 25, 2024
8 years ago
55 views

Otis Tabuni: Pemilukada Papua Jangan Korbankan Rakyat Lagi

Otis Tabuni: Pemilukada Papua Jangan Korbankan Rakyat Lagi
Konflik antar kubu calon Kepala Daerah yang timbul di kalangan masyarakat akibat Pilkada tidak sehat.
Gambar: Ist
Otis E. Tabuni
Tabloid-WANI, OPINI — Dengan adanya pemilihan kepala daerah serentak se Indonesia pada tahun 2017 memunculkan kekhawatiran besar akan konflik kepentingan politik pengandu domba di Papua khususnya wilayah pegunungan tengah Papua.
Dari pengalaman pemilihan sebelumnya, ada banyak konflik yang berujung pada korban nyawa rakyat tak berdosa. Seperti kasus Puncak Mulia pada tahun 2010 yang menelan 57 orang korban tewas dan ribuan lainnya mengalami luka berat dalam bentrok pemilihan umum kepala daerah di ilaga, Kabupaten Puncak Papua. Selain kasus di Puncak Ilaga, proses pesta demokrasi di wilayah Pegunungan Tengah selalu saja terjadi konflik antara kubu masing-masing calon hingga saat ini.
Menurut pernyataan Gubernur Papua, Lukas Enembe bahwa korban tewas akibat Pilkada di Papua jauh lebih banyak ketimbang dari gerakan Papua Merdeka. Hal ini disampaikan berdasarkan data fakta korban yang jatuh dalam Pilkada.
Untuk itu Lukas meminta Pemerintah segera merevisi mekanisme penyelenggaraan Pilkada di Papua. Jika tidak, akan menyebabkan banyak orang mati akibat Pilkada.
“Pilkada di Papua banyak makan korban, bukan yang lain-lain,” ungkap Lukas.
Salah satu contohnya adalah Pilkada di Kabupaten Puncak tahun 2011 yang lalu. Peristiwa yang dikenal dengan ‘Insiden Ilaga’ itu menyebabkan korban tewas sebanyak 57 orang akibat perang antar pendukung calon Bupati Simon Alom melawan pendukung Elvis Tabuni. 
Selanjutnya, Pemilukada tahun 2017 gelombang kedua nanti, diperkirakan akan ada potensi konflik yang perang kepentingan politik Pemilukada di Papua terutama wilayah pegunungan tengah
Menurut prediksi Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw menyatakan bahwa, lima daerah telah ditetapkan sebagai daerah rawan konflik dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah pada Pilkada Serentak Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua, yang akan berlangsung pada 15 Februari 2017 mendatang. Lima Daerah/Kabupaten yang dimaksud Kapolda adalah (Tolikara, Nduga, Intan jaya, Puncak Jaya dan Kota Jayapura) akan menjadi daerah rawan, sehingga perlu adanya pengamanan ketat oleh aparat kepolisian Polda Papua.
Untuk khusus Kabupaten Nduga, saat ini ada tiga (3) pasangan yang telah mendeklarasikan diri pada pemilihan umum kepala dan wakil kepala daerah Kabupaten Nduga, diantara 3 pasangan tersebut adalah:
  1. Yairus Gwijangge dan Wentius Nimiangge
  2. Samuel Tabuni dan Obet Gwijangge
  3. Daniel Lokbere dan Elas Nirigi
Tiga calon kepala daerah diatas, mereka telah siap bertarung pada pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Nduga untuk periode 2017 – 2022.
Melihat situasi dan kondisi daerah di Kabupaten Nduga saat ini, perlu adanya kedewasaan dalam pertarungan kampanye politik pemilihan umum agar tidak terjadi konflik politik kekuasaan dan kepentingan yang berakibatkan mengorbankan rakyat yang tidak mengerti apa-apa. 
Masyarakat di Nduga pasti belum mengerti sistem dan praktek demokrasi secara total, sehingga para calon dan tim suskses, agar memberikan janji politik yang rasionalitas, logis dan tidak provokatif, diskriminatif dan pesuasif yang mengarah pada ajakan janji manis tong kosong.
Di harapkan agar Filosofi hidup masyarakat Nduga dipakai, dipraktekan dan dijadikan sebagai landasan akan mendorong kemajuan sistem demokrasi yang adil dan bermartabat. Filosofi Suku Nduga yang dimaksud adalah; Pertama, Suku diperkenalkan sistem Pemerintahan RI setelah masuknya injil di wilayah tersebut sejak tahun 1963. Dalam penginjilan diajarkan nilai kebersamaan, mengasihi, menghormati dan menghargai sesama umat manusia khusus suku Nduga dan berelasi dengan suku-suku tetangga serta bangsa luar. Kedua, filosofi kerja sama dalam hal-hal tertentu, misalnya kerja kebun bersama (Yabu derak wanugwi bem), buat pagar bersama (Leget wanugwi wenebem), semua didorong oleh kebersamaan dan kesatuan serta membantu melalui gotong royong.
Saya menghimbau agar menghindari segala bentuk perlombahan yang menggunakan fisik dan ancaman, serta menghilangkan money politic (politik cokongan Uang) demi merebut kekuasaan, tetapi melakukan pemilihan secara damai, aman, jujur, adil dan semuanya demi pembangunan dan kesejahteraan rakyat di Kabupaten Nduga.
Masyarakat Nduga harus dapat menyandari bahwa semua orang yang nyatakan siap tampil dalam Pilkada adalah putra-putra terbaik Nduga, sehingga tidak saling menjatuhkan satu sama lain, tetapi memberikan dukungan dengan senang hati, menggunakan hati nurani untuk melayani mereka agar mereka pun melayani dengan hati yang sama seketika memenangkan Pilkada nantinya.
Bagi para calon, memberikan janji pada masyarakat sesuai dengan kebutuhan mendasar, tidak dengan cara rajuan palsu, menjauhkan politik pengandu domba yang berujung pada korban nyawa rakyatmu.
Ingat, rakyat korban demi kepentingan politik pemilihan umum adalah dosa bagi para calon dan dosa itu akan anda para calon memikul selama masa hidupmu.
Demikian, ketegasan saya, tunggu imbauan berikut dengan hal yang sama, agar bisa membantu dalam pemulihan kepala daerah Kabupaten nduga dan Papua pada umumnya.

Posted by: ERIK
Copyright ©TabloidWANI

Leave a Reply

Your email address will not be published.