Dark
Light
Today: July 18, 2024
8 years ago
67 views

Mahasiswa Papua Pindahan Jerman Ditemukan tak Bernyawa Tanpa Penyebab yang Jelas

Emelius Aim di kamar jenaza (RSUD) Kota Salatiga 24/08/2016. Foto: Otis Tabuni/Tabloid WANI
Salatiga, Tabloid-WANI — Mahasiswa asal Mimika, Emelius Aim (20 tahun) telah ditemukan tak bernyawa di depan lapangan Arena Futsal pukul 04:00 WIB Salatiga Jawa Tengah 24/06/2016.
Emelius Aim mengambil jurusan Hubungan International (HI) di salah satu Universitas ternama kota Berlin, Ibu Kota Jerman Timur. Aim baru melakukan teransfer dari Berlin ke Indonesia di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Dia diterima di fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan International. Menurut informasi di tempat kejadian perkara (TKP), Polisi baru tibah setelah mendapatkan laporan adanya jenaza tergelendang di depan pintu masuk arena futsal Salatiga. Kemudian informasi yang diperoleh pihak penjaga arena futsal, bahwa tidak ada gejalah atau ketabrakan di depan pagar ini.
Seorang ibu yang menjaga lapangan tersebut mengatakan “Kami juga punya saatpam yang menjaga arena tersebut selama 24 jam, tapi kok tibah-tibah ada Jenaza?” ujarnya. Bukti lain yang tidak membuktikan adanya kecelakaan adalah motor yang digunakan jenaza tidak ada kerusakan atau lecet dari kecelakaan. Benar, penulsi media telah melihat bahwa sepeda motor milik salah satu rental di Salatiga yang digunakan korban ini tidak ada kerusakan sama sekali.
Sebelumnya kurang lebih sekitar jam 24 WIB, Emelius sempat di kontrakan Puncak Papua Salatiga, dan saat itu kondisi si korban sehat dan cerita seperti biasanya. Jenaza almarhum dilarikan ke rumah sakit umum (RSUD) Salatiga.
Penghormatan terkahir pada pukul 12:00 WIB dan jenazanya telah dikirim ke kampung halamannya Timika, Papua melalui bandar udara Ahmad Yani Semarang sekitar jam 17:00 WIB dengan menggunakan pesawat udara Garuda Indonesia. Dan kasus ini sedang dalam penyelidikan.
Dari kejadian-kejadian sebelumnya kita bisa gambarkan siapa dibalik meninggalnya mahasiswa pindahan Jerman yang sangat cerdas ini.
Pada hari Selasa, hari terakhir Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) yang diselenggarahkan oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Almahrum ikut dalam kegiatan tersebut. Pihak penyelenggarah (Panitia OMB) juga ikut menenggok jenaza di RSUD dan menyampaikan duka citanya atas kepergian beliau.
Almarhum Emelius Aim ini sangat mahir menggunakan bahasa Inggris. Beliau sempat mengatakan
“kuliah di Indonesia jurusan HI akan mudah dan sangat mendorong saya akan selesai dalam waktu dekat” ungkap Emelius (almarhum) kepada sahabatnya di Salatiga.
Saat momen diskusi dengan Almahrum, terkait perpindahan study-nya dari Jerman ke Indonesia, beliau mengatakan
“mahasiswa asal Papua di Jerman khususnya kota Berlin sedang terlantarkan oleh Pemerintah Daerah yang mengirim mereka ke sana. Kami hanya dikrim dan dibiarkan tanpa ada perhatian biaya studi, baik itu dari Pemerintah Provinsi Papua maupun Kabupaten, sehingga kawan-kawan saya di Jerman setiap saat bekerja sambil kuliah” ujar Aim (almarhum).
Melihat hal itu Aim mengambil keputusan untuk melanjutkan studinya di Indonesia
Lanjut Aim “Hal ini mendorong saya untuk berkeinginan lanjut kuliah di Indonesia” unkapnya saat berdiskusi dengan teman-temanya di Salatiga.
Diharapkan kepada kawan-kawan untuk memberikan tanggapan yang logis demi memastikan terkait meninggalnya Aim tanpa sebab yang jelas ini.



Posted by: Otis Tabuni

Copyright ©Tabloid WANI


Tanggapan anda, Silahkan beri KOMENTAR di bawa postingan ini…!!!

0 Comments

  1. Perkenalkan nama saya Taufan, pemilik ayam geprak bang topan.

    Saya ingin mangklarifikasi kejadian meninggalnya mahasiswa papua di depan jalan masuk arena futsal. Pada malam itu saya dan pacar selesai rapat dengan pegawai warung pukul 03.07 am. Posisi warung kami tidak jauh menuju lap futsal arena.. Setelah selesai rapat Tidak lama kemudian ada suara benturan keras, sangat keras sampai kami kaget. kami pun mengecek bagaimana keadaan diluar ternyata ada orang sudah tergeletak di dekat tiang pintu masuk lap futsal dengan luka di dahi, kepala bagian belakang, dan lutut. Disana ada segerombolan mahasiswa (laki2 dan perempuan banyak) sedang menurunkan barang dr mobil. Dan kami pun bertanya kenapa mas nya ini, mereka menjawab kecelakaan tunggal menabrak pagar rumah di jalan masuk gang arena futsal. Motor korban honda beat merah sudah berdiri dg posisi helm di atasnya. Ternyata mahasiswa2 itu sudah memindahkan motor korban ke tepi jalan. Saya segera menelfon polsek sidorejo (pk. 03.15).
    Saya pun berusaha mencari bantuan dg membunyikan tiang listrik menggunakan gembog pagar warung kami, namun tidak ada respon dr warga sekitar.
    Karena pihak kepolisian tidak kunjung datang kami tidak sabar menunggu karena kasihan melihat keadaan korban, ketika kami sentuh korban masih bisa mengerang, akhirnya kami lari ke sat lantas (poltas) disana kami berteriak2 dan tidak ada respon, tidak ada satu orang pun yg kami lihat. Kemudian kami kembali menghubungi polres salatiga. Karena kami posisi bingung, kami pun kembali mengunjungi korban. Disana sudah ada pak RT dan 1 org mahasiswa (baru datang) dan coba menolong dengan menelpon bbrp rekan melalui telpon seluler korban ternyata dia tidak sendiri, 2-3 temannya yg lain berusaha memanggil ambulan tapi dr pihak rumah sakit meminta untuk menghubungi sat lantas terlebih dahulu, kemudian mereka mengunjungi lantas dan akhirnya menemukan pihak kepolisian yg sedang bersiap dan sekitar pk. 03.55 kedua mahasiswa datang dengan pihak kepolisian, kemudian korban di bawa ke rsud. Kami pun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Lalu setelah itu kami kembali ke pulang ke rumah atau warung kami. Saya masih menyimpan foto korban waktu tergeletak, jika ada yang merasa membutuhkan saya akan membagikan foto tersebut untuk keperluan yang berguna.

    Kami hanya ingin klarifikasi cerita yang sesungguhnya tanpa ada rekayasa dan dibuat2, dalam kondisi panik dan keterbatasan kendaraan kami tetap berusaha membantu sodara kami yg tertimpa musibah tanpa memandang ras atau pikir panjang. Kami berusaha melakukan apapun yg kami bisa, sendainya masih ada yg kurang kami mohon maaf dan yg jelas kami turut berduka.

  2. Terima kasih Mas Taufan buat keteranganya,
    Boleh kami meminta Foto-Fotonya? Harap Fotonya dapat dikirim melalui E-mail kami
    (tabloid.wani@gmail.com)

    Terima kasih,

    Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.