Dark
Light
Today: June 25, 2024
8 years ago
21 views

Neles Tebay Bersama JDP STOP Promosikan Dialog Jakarta-Papua

Neles Tebay Bersama JDP STOP Promosikan Dialog Jakarta-Papua
Koordinator Jaringan Damai Papua, Pastor Neles Tebay.

Tabloid-WANI — Jakarta, 16 Oktober 2016, menanggapi isu dialog yang disampaikan oleh Jaringan Damai Papua (JDP) dan Lembaga Ilmu Peneliti dan Pengetahuan Indonesia ( LIPI) sesaat seminar nasional dalam rangka peluncuran buku Papua Road Map Jilid II, di Gedung LIPI, Jakarta (14/10) lalu.

Mahasiswa Papua menolak secara tegas terkait adanya promosi dialog Jakarta-Papua dibawah koridor NKRI, apa lagi dialog itu lagu lama. Kalau itu, LIPI menginginkan adanya dialog Jakarta-Papua dalam waktu yang dekat. Pada seminar tersebut, LIPI menginginkan ada keinginan pemerintah mengadakan dialog yang diusulkan selama ini oleh LIPI dan JDP.

Desekan LIPI bentukan SBY khusus meneliti tentang persoalan Papua dan JDP bentukan Neles Tebay dengan konsep dialog yang dipromosikan bebrapa hari yang lalu di Jakarta atau sebelumnya itu muncul akibat dari situasi politik perjuangan tuntutan Kemerdekaan Papua yang semakin mendunia.

Setelah United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) sebagai wadah politik menuju kemerdekaan Papua terbentuk tahun 2014 di Vanuatu, kemajuan signifikan yang dibangun hingga 2016 meningkat secara tajam. Gerakan generasi muda Papua pada tuntutan hak politik Papua untuk Merdeka bertubuh subur dan sulit dibentang, melangkah secara terorganisir, cakap dan secara damai menyampaikan tuntutan kemerdekaan Papua yang didorong oleh Ideologi lebih tajam dan dasyat. 

Terkait dengan Pernyataan Neles Tebay yang menyatakan bahwa Model Perdamaian Kolombia Dinilai Cocok atasi Konflik Papua yang dilancir satuhaparan.com pada 15 Oktober 2016. Neles Tebay harusnya sadar diri bahwa Persoalan Papua bebeda dengan persoalan Kolombia. Konflik senjata oleh FARC – EP atau Fuerzas Armandas Revolucionarias de Colombia – Ejercito del Pueblo terhadap pemerintahan Kolombia adalah akibat dari buruknya nasib para petani dan aksi protes rakyat petani di Kolombia yang sering diabaikan oleh pemerintah sehingga melakuakn demonstrasi yang direspon oleh pemerintahan Kolombia dengan kekerasan. Akibat dari situ, muncul gerakan bersenjata dengan ideologi komunis dan sosialisme demi memperjuangkan hak rakyat khususnya para petani dengan alasan kominis sosialis mungkin ada kesejaterahaan seperti yang dialami oleh Kuba. Sementara persoalan Papua bukan karena Petani, dagang, minum makan dan lain-lain. Persoalan perjuangan bangsa Papua untuk memisahkan diri dari pemerintah Indonesia atas beberapa hal yang mendasar:
  • Pertama, Persoalan Ideologi. JDP yang didirikan oleh Neles Tabay, sebagai orang Papua harus menyandari bahwa persoalan Papua adalah atas dasar Ideologi bangsa Papua. Nasionalisme yang dibentuk atas Ideologi bangsan Papua memperjuangan hak politik untuk medeka dan berdaulat diatas tanah Papua. Atas dasar Ideologi yang diperkosa oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang diprakarsai oleh Amerikat Serikat demi kepentingan politik kapitalisme di wilayah Papua barat.
  • Kedua, Bangsa Papua memperjauangkan ketidak adilan sejarah. Sejarah persengketaan status politik bangsa Papua yang sangat tidak berdasarkan pada norma-norma kemanusiaan dan mengabaikan hak dan masa depan bangsa Papua. Kita bisa lihat dari fakta sejarah manipulasi hak politik bangsa Papua pada Penrjanjian New York 15 Agustus 1962, tidak pernah dihadirkan, dilibatkan atau dihadiri dan melibatkan perwaklian sah dari bangsa Papua sebagai subyek hukum international yang dipersengketahkan oleh ketiga negara saat itu. Kemudian, Roman Agreement di Itaia, tidak ada satu perwakilan sah dari bangsa Papua yang terlibat atau melibatkan diri dalam pembahasan mengenai hak penentuan nasib sendiri sehingga konsep perjanjian new york yang menurutnya one man one vote justru di ubah sistem perwakilan. Konsep penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua di hilangkan atau dihapuskan dan menggunakan musyawarah mufakat berdasarkan perwakilan dan pembentukan dewan musyarah mufakat sebagai perwaklian setiap kabupaten. Proses ini dikenal dengan Penentuan Pendapat Rakyat ( PEPERA) yang sesunggunya bukan PEPERA tetapi penentuan pendapat Militer atas tekanan, tondongan, ancaman, sehingga ketakutan para peserta DPM memilih Indonesia secara menyeluruh.

    Secara Logika, dalam sebuah pesta demokrasi Cuma 10 orang seklainpun tidak mungkin memilih hanya satu secara serentak. Mengapa bangsa Papua khsusnya DMP PEPERA yang berjumlah 1.025 orang Papua secara menyeluruh menyatakan Indonesia? Apakah itu hasil demokrasi tanpa ada tekanan luar khususnya militer indonesia melakukan penekanan dan mengintimidasi mereka? Banyak saksi menyatakan bahwa kami memiliki jiwa untuk Papua merdeka tetapi kami takut mati, jika milih Papua, kami akan ditembak oleh militer indonesia sehingga mau dan tidak mau harus memlih Indonesia secara paksa. Itulah yang biasa kami sebut PEPEPRA dimenangkan oleh TNI Indonesia.

  • Ketiga, Berbagai kejahatan terhadap kemanusiaan di Papua sejak awal persengketaan, para kondisi menujuh PEPERA, setelah PEPERA, masa pemerintah orde baru, masa transpormasi birokrasi pemerintahaan dan peraktek demokrastisasi dan penegakan HAM, masa pemberlakuan Otonomi Khusus Papua sejak 2001 hingga saat ini belum pernah ada perubahan wajah Negara. Belum pernah ada pendekatan kemanusiaan secara manusiawi.
  • Keempat, JDP melihat langsung situasi politik yang sedang berlangsung melalui MSG, ULMWP, PIF, bahkan di tingkat PBB. ULMWP tidak memiliki agenda Dialog Nasional yang didorong oleh LIPI. ULMWP hanya memiliki agenda memperjuangkan keanggotaan penuh di MSG, mendorong dan memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri melalui referendum sebagai solusi politik. Tidak ada cara lain karena pemerintah Indonesia adalah Kolonial di Papua dan bersama bangsa klonial tidak pernah ada jaminan hidup bagi rakyat terjajah sehingga bangsa Papua menuntut merdeka berdasarkan mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 
Dari masa kemasa, bangsa Papua hidup berdampingan dengan pemerintah Indonesia hampir 55 tahun tetapi tidak ada jaminan hidup bagi bangsa Papua. Bahkan bangsa Papua akan termusnah dari negerinya sendiri. Sehingga gerekan revolusi damai generasi muda melalui berbagai kesempatan secara bermartabat mendorong solusi referendum bagi bangsa Papua. Misal, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menyampaikan demo dengan isu utama Penentuan nasib senderi sebagai solusi demokrastis bagi bangsa Papua. Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyampaikan aspirasi bangsa Papua dengan tuntutan utama yaitu Referendum sebagai Solusi bagi bangsa Papua. Dimana-mana ada poster Referendum now, Referendum for West Papua, Referendum in West Papua, berbagai masyarakat regional dan Internasional menuntuk pemerintah Indonesia dengan hal yang sama.

Generasi Papua secara kritis membaca pergerakan JDP. Bahwa seketika isu Papua menguak di dunia international, seperti pada debat umum PBB dari tujuh (7) negara dari Pasifik yang mengangkat persoalan pelanggaram HAM dan Penentuan nasib sendiri bagi bangsa Melanesia di Papua dan akan adanya pembahasan keanggotaan penuh ULMWP MSG pada bulan Demsember mendatang di Vanuatu. Tibah-tibah JDP dan LIPI mulai memompa dan menawar Indonesia dengan isu-isu duduk bersamaan dimana-mana. JDP menjadi alat tawar ke pmerintah RI seketikika isu Papua memanas diluar negeri. Mengapa JDP menjadi posisi tawar kepada pemerrintah RI ?, Mengapa menginginkan dialog ?, Siapa yang bermain sesungguhnya JDP dengan Neles Tebay ?.
Kita menyandari bahwa JDP sesungguhnya mencari jalan menuju pembebasan bansga Papua atau mencari jalan untuk memperburuk nasib dan masa depan bangsa Papua ?. Jika JDP, pendirinya adalah seorang Doktor dan Rohaniawan asli Papua lulusan Roma, Italia. Dia mengerti benar langkah perjuangan yang sedang berlangsung.
Kecuali seketika dunia menutup mata, menutup telingah, tidak ada yang mengangkat isu Papua di forum international, regional, nasioanl dan lokal dengan rasa keprihatinan boleh menuntut dialog agar mengakhiri kekerasan negara di Papua demi kedamaian sebagai misi Rohaniawan. Tetapi pertanyaannya adalah dukunagan dunia semakin gencar dan bahkan seluruh dunia sedang menyadarkan diri tentang Papua, lalu situasi ini JDP justru menjadi posisi tawar dengan pemerintah RI atas dialaog. Kita bisa lihat langkah dan perjalanan JDP.
Rakyat bersama generasi muda Papua tidak pernah demonstrasi damai menutut diselenggarahkannya dialog Jakarta Papua. Lalu JDP kenapa berbicara konsep dialog yang orang Papua anggap dialog itu lagu lama yang bukan solusi bagi Papua. JDP seharusnya mendukung upaya ULMWP yang memperjuangkan keanggotaan penuh di Melanesian Sperhead Group (MSG) yang sedang diperjuangankan, mendukung agenda-agenda lainnya demi menuju kemerdekaan secara politik sebagai bangsa sehingga dengan sendirinya keadilan, kedamaian, dan demokrasi akan terwujud secara abadi. 
Karena sesungguhnya, ULMWP adalah memperjuangan perdamaian dan keadilan yang abadi dan permanen bagi bangsa Papua, sehingga dengan konsep perjaungan nonviolence tersebut menjadi kemerdekaan secara damai bangsa Papua akan menjadi agen perdamaian dunia.

Jadi siapa sebenarnya JDP ? Apa maksud dan tujuan JDP ? Siapa aktor dibalik jadi peremdam gerakan internationalisasi bangsa Papua dengan isu dan konsep dialog nasional, damai dan lainnya akan memberikan senjata ampuh bagi diplomat Indonesia untuk bahan kampanye sebagai upaya menutup penyelesaian pelanggaran HAM scara International. Jadi lebih baik JDP Stop bicara Dilaog, dialog bukan solsui. JDP Belum mengerti sifat busuknya NKRI ? Apakah JDP mulai menghentikan pembunuhan diatas pembunuhan di Papua ? Jika Anda adalah gerakkan jaringan damai, sejahu mana telah menghentikan securitisasi dan militerisasi Papua para kondisi menuju dialog yang dimaksud? 
Jika JDP modelnya seperti ini, dianggap penghianat, pemerkosa hak politik bangsa Papua yang sedang diperjuangkan. Bangsa Papua hingga kini hanya menuntut tersenggerahkannya penentuan nasib sendiri melalui rfereedum dibawah pengawasan pasukan perdamaian PBB. 
Oleh karena itu, Jaringan Damai Papua, LIPI dan pihak lain yang mempermainkan peran dalam isu dialog, kami generasi muda Papua secara tegas mengutuk keras upaya ndialog tersebut, itu lagu lama, mengapa sekarang baru mau bicarakan dialog ? . Dialog itu lagu lama, basi, dan busuk. Mengapa Neles Tebay mengangkat isu dialog ? Dialog yang dimaksud menggunakan metode apa ? Mekanismenya bagimana ? Prosedurnya apa ? Powernya mana ? Posisinya apa ? Sedangkan menurut LIPI sesaat seminar peluncuran buku Papua Road Map Jilid II, katanya dialog Jakarta-Papua dalam bingkai NKRI.

Lalu Neles Tebay juga mempersoalan model Perdamaian Kolombia Dinilai Cocok Atasi Konflik Papua. Sedangkan isu awal lahirkan konflik antara Kolombia dan Papua sangat berbeda jahu. Sesungguhnya yang siapa, yang bingung siapa ? Kok cari medel, metode dan lain-lain.

Mahasiswa Papua harap, Neles Tebay menyandari semua ini sehingga tidak menjadi penghalang gerakan kebebasan yang sedang mendunia, jangan mencari kepentingan dengan membujuk, ayoh RI segarah dialog, karena ULMWP sudah menduniawi, bahkan 7 negara sudah angkat masalah Papua di forum PBB, apa lagi akan menjadi angoota penuh MSG sangat berbahaya jadi ayohlah pemerintah RI kita menggelar dialog duluh, nanti bahaya kalau tidak ada yang Refreedum dipasilitasi oleh PBB malah bahaya.

Menurut kami generasi, Seperti ini yang dilakukan oleh JDP dan LIPI. Haha, Neles Tebay orang asli Papua bahkan Doktor tetapi permainannya tercium oleh seluruh pejuang. Stop sudah karena dialog bukan solusi, tetapi itu akan menjadi persoalan yang kemudian akan memusnahkan rakyat bangsa Papua.

Posted by: OTIS TABUNI
Copyright ©Tabloid WANI

Leave a Reply

Your email address will not be published.