Dark
Light
Today: June 20, 2024
6 years ago
12 views

Menebus Dosa dengan Memerdekakan Papua

Menebus Dosa dengan Memerdekakan Papua

Kian ia dekat dengan rakyatnya, kian ia sadari betapa Jakarta tak pernah serius ingin membangun Papua.

Kami duduk di kedai pizza. Pagi masih muda. Di luar, jalanan Jakarta begitu bergegas. Kontras dengan kedai. Masih sepi pengunjung. Kami pun leluasa berbincang.

Entah ini sudah pertemuan keberapa. Entah kapan akan berujung.

Beliau orang Papua. Lebih tepatnya seorang tokoh Papua. Sebut saja ia Pace Hat. Dan ia begitu menggebu-gebu bicara masa depan Papua, yang menurutnya, kemungkinan besar tak akan lagi bersama Indonesia.

Ada banyak alasannya. Dan Pace Hat sangat paham sejarah. Tentang Pepera yang menurutnya curang. Tentang bengisnya para serdadu sejak hari pertama diterjunkan ke Tanah Papua. Kekerasan dan perlakuan buruk mereka, sehingga orang Papua diperlakukan tak ubahnya seperti satwa.

Banyak alasan itu sudah ia kisahkan berulang-ulang. Tetapi sepertinya ia tidak bosan. Karena menurut dia, itu juga yang dilakukan oleh bapa dan mama-mama Papua kepada anak-anak mereka.

Menuturkan sejarah dari mulut ke mulut. Sambil duduk, sambil mengunyah pinang. Atau sambil petik gitar. Sebab sejarah kekelaman itu tak akan pernah didapatkan anak-anak di bangku sekolah.

Pagi itu, saya dengarkan lagi satu alasannya kenapa ia melihat masa depan Papua bukan bersama Indonesia. Dan saya terperanjat. Tetapi juga ingin mengumpat. Betapa berdosanya kami orang Indonesia. Dan pria di hadapan saya juga merasakan hal yang sama: betapa ia telah berdosa dan karena itu ia ingin memerdekakan Papua. Untuk menebus dosa.

Syahdan pada suatu masa saat ia masih sangat muda, Pace Hat beruntung diterima menjadi PNS. Ia masih mahasiswa dan aktivis. Cita-citanya sesungguhnya menjadi wartawan televisi.

Tak pernah terpikir untuk jadi pegawai negeri yang dalam benaknya adalah profesi paling membosankan sedunia. Tetapi demi menyambung hidup dan ada kesempatan, menjadi PNS di sebuah jawatan — tanpa tes karena ia dekat dengan atasannya yang Orang Jawa — mengapa tidak?

Mulailah ia terjun ke dunia birokrasi. Gajinya cukup, tetapi ia mulai harus menggadaikan integritas dan moralitas.

“Sesungguhnya di dalam batin saya ada pemberontakan melihat bagaimana birokrasi pemerintah bekerja. Birokrasi ini saya lihat banyak sekali menipu. Korupsi berlanjut bahkan membesar. Dan itu saya saksikan, bahkan saya kerjakan sendiri,” katanya.

Masa itu masa Soeharto. Bonanza minyak tengah pada puncaknya dan Departemen Sosial punya gagasan untuk membuat proyek pengembangan masyarakat terasing di Papua. Salah satu tujuannya, membuat pemukiman bagi suku-suku terasing di Papua.

Ini menyangkut uang yang banyak. Tetapi bukan hanya itu: ini adalah proyek prestisius. Harus tampak hasilnya secara kasat mata. Sebab pemerintah ingin terlihat berbuat untuk Papua.

Sebagaimana proyek-proyek yang kejar tayang dan untuk membuat “Bapak Senang”, Pace Hat bercerita, mereka mengerjakan proyek itu dengan membabi buta.

“Pokoknya kami bikin saja. Walaupun tidak cocok, karena suku-suku terasing itu lebih senang tinggal di atas pohon, di honai, kami paksakan juga membuatnya. Kami paksa mereka masuk.”

Sempat tersembul dalam pikiran dan batinnya, “apakah yang saya perbuat ini benar?” Tetapi benar agaknya perkataan bahwa dosa memiliki perekat. Semakin dalam Pace Hat terjerat, semakin lengket dia punya telapak. Jalan untuk keluar kian seret.

Puncaknya, ketika Menteri Sosial saat itu, Nani Sudarsono, datang berkunjung meresmikan proyek. Ini sudah jelas-jelas proyek gagal, tetapi harus ada upaya untuk membuatnya seolah berhasil. Untuk menutupi satu dosa, harus ada dosa lain.

“Kami kembali menipu,” kata Pace Hat.

Untuk menunjukkan bahwa proyek itu berhasil, harus ada bukti bahwa suku terasing telah dan sedang menghuni pemukiman tersebut. Mereka menemukan solusi tipu-tipu: seorang guru orang Papua tamatan SGB mereka sulap menjadi suku terasing.

Ketika menteri datang, ia yang menjawab pertanyaan. Demikian juga ketika diwawancarai oleh televisi, sang guru dengan chasing suku terasing menjadi narasumber.

Berhasil. Tetapi tak membuat Pace Hat senang. “Sungguh sebuah kebohongan yang saya sendiri bila mengingatnya kembali merasa muak,” ungkapnya.

“Setiap kali bantuan berupa beras, kacang ijo, dan gula turun dari Pusat untuk suku-suku terasing itu, yang seharusnya kami bagi-bagikan kepada masyarakat, justru kami bagikan kepada para pegawai. Kenapa? Sebab masyarakat terasing itu tidak bisa memasak karena mereka memang tidak biasa memasak itu barang. Ini contoh lain kelakuan buruk yang kami jalankan bertahun-tahun.”

Dosa itu terlalu berat untuk ia pundak. Dan ia tak kuat. Pada suatu hari ia memutuskan meninggalkannya. Ia pergi dengan secarik kertas pengunduran diri yang disobek-sobek atasannya. Selamat tinggal kepada dunia priyagung negara.

Lalu ia menerjuni dunia jelata: hidup bersama rakyat Papua lewat Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) yang mulai menemukan bentuknya di Papua tahun-tahun 1980-an. Ia jadi aktivis LSM. Seangkatan George Aditjondro almarhum.

Kian ia dekat dengan rakyatnya, kian ia sadari betapa Jakarta tak pernah serius ingin membangun Papua. Semua kisah-kisah yang pernah diceritakan bapa dan mamanya kembali segar.

“Saya sekolah SD di Papua bagian Selatan tahun 1960-an. Pada masa itu, saya masih mengingat jelas, ketika Kapal Dewa Ruci datang membawa aparat dengan segala perlengkapan dan terutama perilakunya. Semuanya jadi sangat berubah.

Mereka datang dan memasuki kehidupan kami benar-benar dengan agresi yang masif. Mereka mengajarkan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, Mereka ‘membelah’ dan mengisi kepala kami dengan sejarah dari kitab-kitab lama mereka. Mereka berkata bahwa pahlawanmu adalah Hasanudin, Imam Bonjol dan seterusnya.

“Pada saat yang sama, mereka juga mempertontonkan perilaku yang tidak bisa kami lupakan dan sangat kami benci. Mereka merampok rakyat di mana-mana. Sampai pintu rumah dan kloset pun dicabut, diambil lalu pergi.

Belanda mewariskan kepada kami rakyat Papua peradaban dan pendidikan. Mereka meninggalkan pada kami gramafone, radio dan lain-lain, tetapi mereka yang datang dari negara yang menamakan diri Indonesia itu mengambil dan merampoknya. Itulah interaksi pertama kami dengan aparat republik yang ternyata menjadi pengalaman kolektif hampir seluruh rakyat Papua generasi saya.”

Pengalaman pahit itu sangat membekas. Dan tidak mengelupas, malahan kian hari kian segar saat menyaksikan ketidakadilan yang dialami rakyat Papua makin diobral. Diskriminasi dan penghinaan. Semuanya seakan semakin kelam. “Papua selalu dipandang sebagai bangsa yang tidak bisa mengelola dirinya sendiri,” kata Pace Hat.

“Anda pergi ke Jayapura dan dapat Anda lihat mengisi bensin ke mobil saja tidak ada orang Papua. Apa susahnya pekerjaan itu? Tetapi kalau sudah ada mindset, sudah ada platform keyakinan, maka apa-apa menjadi tidak bisa. Pekerjaan yang sederhana itu pun akhirnya Anda tidak boleh ambil karena Bangsa Papua dianggap pemalas, bodoh, peminum, pemabuk.”

Pace Hat berbicara dengan mata pedih. Ia tampak lelah sekali.

Pagi sudah lama lewat. Waktu makan siang segera tiba.

“Betul, orang Papua memang ada yang mabuk, ada yang suka minum. Dan kalau kami nanti merdeka, ketika kami mengurus diri kami sendiri, itu tidak akan jadi masalah. Kami akan membuat pulau khusus untuk orang yang mabuk. Tetapi kami juga sudah berpikir untuk membangun embarkasi haji sehingga setahun sekali orang dapat naik haji. Pada saat yang sama kami juga akan membangun tempat judi. Tidak ada persoalan.”

Kami beranjak ke meja yang lebih lapang. Tempat kami merasa akan dapat menikmati makan siang dengan lebih tenang.

Ketika kami duduk kembali, ia berbisik sambil menatap mata saya dengan tajam. Ia berkata bahwa kendati ia sangat-sangat yakin suatu saat Papua tidak akan bersama Indonesia, ia masih menyisakan sebuah peluang, meskipun sangat kecil, tentang kemungkinan memenangkan hati rakyat Papua.

“Ini kemungkinan yang saya anggap kecil, bahkan mustahil, namun tetap saja harus dipelihara. Yaitu bila platform Republik ini diubah. Kita desain ulang Republik ini, tetapi kita mendesainnya bersama-sama. Artinya, orang Papua harus turut serta dalam proses itu. Orang Papua tidak menjadi objek saja, seperti selama ini.”

Itu perbincangan kami dua tahun lalu. Dan buku itu belum kunjung terbit juga.

Posted by : Wim Geissler
Copyright ©Qureta “sumber”
Hubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.