Dark
Light
Today: June 21, 2024
6 years ago
9 views

Teluk Wondama Kekurangan Guru

Teluk Wondama Kekurangan Guru
Ilustrasi. Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat ternyata masih mengalami kekurangan guru.

Wasior — Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, hingga kini masih mengalami kekurangan guru, dan hal ini menjadi salah satu kendala terbesar dalam dunia pendidikan di daerah tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Teluk Wondama, Hanok Mariai di Wasior, Rabu (8/8), mengatakan, persoalan ini sudah berlangsung lama. Terjadi ketimpangan cukup yang cukup tinggi antara jumlah guru dan sekolah.

“Baik SD maupun SMP. masih sangat timpang. Jumlah guru yang ada ini belum bisa mencukup kebutuhan sekolah yang tersebar di seluruh distrik,” kata dia.

Secara keseluruhan, kata Hanok, guru PNS yang terdaftar pada Dinas Pendidikan Teluk Wondama sebanyak 226 orang untuk SD, dan 88 orang guru SMP. Mereka tersebar masing-masing di 56 SD dan 16 SMP.

Dari 314 guru SD dan SMP ini, lanjutnya, hanya sekitar 300 orang yang masih aktif mengajar. Sebagian sudah meninggal dan sebagian lain pindah ke daerah lain.

“Mari berhitung, 88 guru SMP dibagi 16 sekolah, sekitar 5 orang. Itu belum cukup untuk menangani seluruh mata pelajaran,” kata dia.

Begitu pula untuk SD, rata-rata satu sekolah hanya ditangani dua hingga tiga guru. Ia berharap, hal ini menjadi perhatian pemerintah pusat.

(Baca ini: Guru di Distrik Waan Belum Miliki Rumah Dinas)

Menyiasati keterbatasan guru tersebut, Dinas Pendidikan menempuh cara dengan mengoptimalkan peran guru honorer, baik honorer yang diangkat pihak sekolah maupun pemerintah daerah.

Secara bertahap, guru honorer dikirim mengikuti pendidikan dan latihan, untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan mengajar. Selanjutnya mereka didistribusikan ke berbagai SD maupun SMP yang masih kekurangan guru.

“Jadi sementara gaji guru honor belum kita bayar, karena kita bagi dulu. Setelah memenuhi kuota baru kita lakukan sistem kontrak. Kita tidak pakai lagi SK (bupati), karena kalau pakai SK mereka mau pergi kerja atau tidak, mereka malas,” katanya.

Pihaknya meyakini, sistem guru kontrak lebih efektif. Pengangkatan guru kontrak telah dilakukan sejak tahun ini dan akan berlanjut pada 2019 mendatang.

(Simak ini: Guru di Papua Ini Blak-blakan Sebut Aksi seperti Dilakukan Zaadit Taqwa Tak Beretika)

Copyright ©Satu Harapan | Antara “sumber”
Hubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.